Banyak Cara Berhaji dan Berumroh Murah

Kisah Emak bukan hanya ada di film tetapi banyak terjadi di masyarakat sekeliling kita. Ada penjual sate keliling, tukang tambal ban, tukang becak, pedagang sayuran di pasar, tukang cabut rumput dan profesi-profesi biasa lain yang bisa berangkat naik haji. Kisah lengkap mereka ditulis Budhi Wuryanto: Tukang Kuli Naik Haji, Andapun Bisa! Mereka dengan tekun menabung Rp2 ribu sampai Rp20 ribu tiap hari, hingga bertahun-tahun. Ada yang 7 tahun, 12 tahun, bahkan ada yang 20 tahun dengan sabar menabung, hingga Allah Yang Maha Pemurah memberangkat haji. Musim Haji Tahun 2010 lalu, tukang becak asal Brebes, Jawa Tengah, bisa berangkat haji dari menabung selama 20 tahun. Keberangkatannya dihantar denganĀ  pawai becak para tetangga dan teman-teman seprofesi. Sungguh dahsyat! Bahkan lebih dramatis lagi, Hasan Bisri telah menulis 99 Cara Naik Haji Gratis, termasuk dirinya. Lantas apalagi yang membuat kita ragu?

Allah Maha Kaya. Allah Maha Pemberi dan Maha Pemurah. Saya juga melakukan hal yang sama. Begitu niat sudah menggedor-gedor hati, sesudah bertahun-tahun menggantung tak pasti, saya pelihara dan saya rawat dengan sebuah action, menabung. Ya., menabung! Tak peduli berapa besarnya dana yang bisa saya debetkan. Targetnya harus terus bertambah setiap bulan.

Saya pun menyimpan poster gambar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi di ruang kantor. Saya sering memandangi kedua poster itu. Bahkan kadang berguman,”Nanti saya masuk ke masjid ini dari pintu sebelah mana, ya?” Selanjutnya saya tersenyum sendiri menyadari perilaku “aneh” ini. Namun, terus terang saya bisa memperoleh perasaan penuh bahagia setiap usai melakukan itu. Saya membayangan, diri saya berjalan memasuki salah satu pintu di Masjidil Haram, lalu terpaku di depan Ka’bah entah untuk berapa lama. Tahu-tahu, saya melihat diri ini dengan pakaian ikram, tawaf mengelilingi bersama ribuan jamaah.

Bila ada undangan walimatussafar, saya berusaha menghadirinya. Semenatra di rumah, saya mengkliping berita haji dari koran Republika, yang saya langgan hanya saat musim haji. Ditambah koran Kompas, dan Tempo yang kebetulan langganan kantor. Bila ada berita haji di TV, saya bersemangat menontonnya.

Tentu saja, doa tidak pernah lepas setiap usai sholat fardlu, usai sholat dhuha, dan sholat malam yang masih bolong-bolong. Selanjutnya saya iklaskan dan tawakal kepada Allah Sang Penggenggam Waktu. Hasilnya..? Bersyukur, Allah Yang Maha Kaya memberi kemudahan dalam ikhtiar saya dan segera memberikan kode PIN
Bank Langitan untuk mencukupi seluruh kebutuhan biaya ONH saya.

Alhamdulilllah. Man jadda wa jadda. Man shabara zhafira. Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Siapa yang bersabar akan beruntung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *